“Aku gemar berdoa. Bercerita pada Tuhan tentang kita. Dalam
persepsiku, Tuhan ikut bahagia. Walau kita menyebutNya dengan nama
berbeda”
Seusai sholat Ashar, aku menjemput dia di gereja.
Aku menunggu di depan gereja bersama motor tuaku buatan sebelum masehi
saat kerajaan Singosari masih berdiri. Tatapanku lekat ke bagian samping
gereja. Di sebuah ruangan di samping gereja, ada seorang wanita dengan
senyum simpulnya menyalami anak-anak kecil yang keluar dari ruangan itu.
Wanita itu bernama Bianca. Wanita yang 3 tahun terakhir ini aku anggap
penting, terpenting kedua setelah ibuku. Wanita ini berbeda, Minggu sore
biasanya seorang wanita menghabiskan sisa weekend mereka dengan
“gentayangan” di berbagai trade center, tapi Bianca menghabiskan Minggu
sorenya untuk mengajar anak-anak sekolah minggu di gerejanya. Dia
menyayangi anak-anak seperti aku menyayangi dia atau mungkin sangat amat
menyayangi.
“Udah lama ya, Gil?” Sapanya ringan tapi mengagetkanku.
“Ragil Kurniawan! 3 tahun kenal tetap aja panggil Gil Gil, Gila! Enggak, aku juga baru nyampe kok.” Aku menjawab pertanyaannya.
“Sensi
banget! Laper ya? Eh, ada rumah makan bakmi di dekat gerejaku. Kata
temenku enak lho. Coba yuk! Aku yang traktir!” Dia mengajakku dengan
semangat.
“Boleh. Kalau aku nambah, kamu bayarin juga kan?”
“Iyadeh. Makan sekalian sama piring-piringnya deh ya!”
“Sekalian sama gerobak deh.”
“Ih,
cepet ah! Aku laper!” Dia memasang tampang cemberut sambil menaiki
motorku. Cuma dia satu-satunya wanita yang mungkin tidak malu menaiki
motor tua dengan pengendara acak-acakan seperti aku ini.
***
“Bakminya
ternyata enak! Aku kira enaknya cuma kata orang-orang aja. Ternyata
enak beneran!” Dia berkata dengan penuh keyakinan, untuk meyakinkan
otakku mungkin.
“Semua bakmi ya rasanya kayak gini!”
“Sstt.. frontal banget sih!” Dia menarik hidungku sampai merah. Sakit!
“Lebay! Baru ditarik pake tangan kan, bukan pake garpu bangunan!”
“Sangar
banget sih!” Aku membalas menarik hidungnya tapi dia malah tertawa. Aku
menikmati suasana ini, suatu saat mungkin aku akan merindukan saat-saat
seperti ini. Sungguh, aku ingin menjadikan dia sesuatu yang
satu-satunya kulihat saat bangun pagi, tapi kita berbeda, bumi dan
langit. Sesuatu yang kita yakini, agama, malah menjadikan kita terasa benar-benar berbeda.
***
Sesampainya
di rumah, aku melihat mama sedang menonton televisi. Aku duduk di
samping beliau dan mencium tangannya. Tanpa berkata-kata, aku langsung
meninggalkan beliau menuju kamar.
“Jemput Bianca lagi ya?” Suara mama yang tinggi mengagetkanku.
“Iya,Ma.” Aku menjawab pendek.
“Kamu
tuh gak ngerti ya kalau mama bilangin! Selesai sholat Ashar, langsung
pulang! Gak usah kelayapan dan sok-sokan baik jemput-jemput Bian! Emang
dia mau ngasih apa kalau kamu jemput? Emang dia siapa sampe kamu
repot-repot buat jemput?”
“Berbuat baik kan gak salah,Ma.”
“Mama
gak suka liat kalian sering-sering berdua. Kamu ngapain sih deket-deket
sama dia? Mending kamu cari wanita yang lebih pantas, seagama,
jilbaban, terus kenalin ke mama. Gitukan lebih baik!”
“Tapi, Ma. Seharusnya agama itu tidak mengkotak-kotakan!” Aku berkata kepada ibuku dengan nada tinggi, kesal.
“Kalian
berbeda agama. Beda cara beribadah, berbeda pula siapa yang kalian
sembah. Begitu pula dengan ideologi hidup kalian! Agama berbeda maka
berbeda juga tujuan hidup di dunia ini. Kalian tidak akan bersatu! Alam
semesta mau sesuatu yang seimbang, bukan sejoli angkuh seperti kalian!”
Ibuku menghujani perkataan yang membuat aku tambah kesal, hatiku sakit,
teriris.
“Tuhan itu cuma satu! Hanya cara-cara menyembah-Nya saja yang berbeda!” Aku berjalan, membanting pintu kamar. Amat sangat kesal.
***
Seperti
hari Minggu biasanya, selesai sholat Ashar, aku menjemput Bianca di
gereja. Selesai menyalami anak-anak sekolah Minggu, dia menghampiri aku
yang sedang duduk dimotorku. Dia melipat wajahnya, seperti
menyembunyikan sesuatu.
“Maaf ya, Gil. Aku mau pulang sendiri.
Tapi, nanti malam kita ketemu di tempat biasa ya. Aku mau membicarakan
sesuatu dan itu butuh tempat sepi.” Nadanya menyimpan banyak perasaan
getir. Aku takut.
***
Di bawah sinar rembulan, aku menatapnya lekat.
“Aku
gemar berdoa. Bercerita pada Tuhan tentang kita. Dalam persepsiku,
Tuhan ikut bahagia. Walau kita menyebutNya dengan nama berbeda.” Dia
berbicara dan menatapku, dalam.
“Tapi kok aku gak merasa Dia
bahagia? Aku ke masjid, kamu ke gereja. 8 tahun kita menjalani itu
semua, tapi orang-orang sekitar menganggap kita bodoh. Mereka
menertawakan dua orang berbeda keyakinan yang sering menghabiskan waktu
bersama, berdua. Bukan untuk berzinah tapi untuk meyakinkan pada dunia bahwa perbedaan bukan alasan untuk tak saling mengasihi. Mereka bilang kita pacaran, tapi jutaan kali kita mengatakan sahabatan. Ah.. Sahabatan. Status yang selalu membuatku sesak.
Padahal, aku begitu menyayangimu, Bi. Bahkan saat mereka menganggap
kita berdua bodoh!” Aku berkata dengan segala kesesakan yang aku rasa.
Lega.
“Aku juga sayang sama kamu, Gil. Ini yang selalu membuatku semakin sesak saat ngelihat mata kamu. Harusnya dunia gak sekeras ini sama kita.” Dia berkata dengan penuh kejujuran, aku merasa sesak.
“Mungkin
ini akan ngagetin kamu, bulan depan aku akan mengikuti seminari suster.
Seumur hidupku akan ku berikan untuk melayani Tuhan. Aku udah mikirin
ini jauh-jauh hari, jadi jangan tanya kenapa karena pasti jawabannya
akan benar-benar panjang!” Dia berkata dengan perasaan resah dan gundah,
seperti tidak yakin bahwa dia bisa melakukan hal itu.
“Kamu yakin?”
“Keyakinan itu bisa datang karena terbiasa dengan mengerti apa yang diyakinki. Aku gak yakin bisa ninggalin semua, termasuk kamu…” Dia berkata dengan mata memerah, menahan tangis.
“Kamu akan menemukan tulang rusukmu, Gil, yang jelas bukan aku. Kamu akan menemukan yang terbaik, lebih baik daripada aku.”
Aku
terdiam, tidak bisa menahan air mata itu. Aku terlihat seperti lelaki
bodoh, menangis di depan wanita yang aku cintai dan begitu berarti.
“Aku
mungkin bakal kangen sama kamu. Tapi aku gak harus terenyuh dan terlalu
memikirkan kangen itu,Gil. Kamu dan aku akan baik-baik saja.”
Aku
tidak bisa berhenti menatap matanya yang benar-benar merah. Dia
benar-benar ingin menunjukan padaku bahwa dia adalah wanita yang kuat.
“Pulang yuk, udah malam.” Dia menarik lengan bajuku, pertanda agar aku segera menaiki sepeda motorku.
Akhirnya
kami pulang dan masih menyimpan banyak sakit. Tuhan belum puas
membunuhku dengan harapan-harapan kosong yang aku buat sendiri.
Butir-butir
air membasahi tanganku. Hujan! Walaupun masih rintik-rintik. Aku takut,
Bian kehujanan. Butir-butir hujan itu semakin bertambah,
rintik-rintiknya menjadi deras. Dingin, aku merasa begitu dingin. Dari
belakang, dia menggenggam bahuku. Memelukku dengan erat. Jika seperti
ini, aku ingin merasa terus kedinginan, agar dia bisa terus memelukku.
Pertama kali dan terakhir kali dia memelukku, sebelum aku
mengikhlaskannya sebagai kekasih Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar